Saat Teduh Sabtu, 14 November 2009
Pembacaan Alkitab: Yohanes 4:4-39
4 Ia harus melintasi daerah Samaria.
5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih dalam perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggr sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yeus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9 Maka kata perempuan Samaria nitu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan engkau air hidup.”
11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak mempunyai timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
16 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.”
17 Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yeus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa kamu tidak mempunyai suami,
18 sebab engkau telah mempunyai lima suami dan yang sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”
19 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”
21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kpada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.
22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24 Allah itu Roh dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah dalam roh dan kebenaran.
25 Jawab perempuan itu kepadanya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”
26 Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”
27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: “Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”
28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:
29 “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”
30 Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.
31 Sementara itu murid-muird-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabu, makanlah.”
32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”
33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya utnuk dimakan?”
34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
35 Bukanlah kamu mengatakan: empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah lading-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.
36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.
37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.
38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.
39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
“BERSAKSI GEMBIRA”
Yohanes 4:39
Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
RENUNGAN
Kadang aku ragu berbicara tentang Allah kepada orang-orang di sekitarku. Diliputi kegamangan, aku berpikir bagaimana aku dapat menjelaskan bahwa Yesus hidup dan sangat mengasihi kita? Berdebat tidak akan membuat mereka mempercayai kebenaran itu. Bacaan hari ini menunjukkan cara seorang perempuan berhasil berbagi kabar sukacita tentang Yesus.
Secara sederhana perempuan di sumur itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya. “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” [Yohanes 4:29]. Ia mengajak orang lain untuk mengenal-Nya juga. Ia tidak pandai berargumentasi. Ia bersemangat menceriterakan pertemuannya dengan Juruselamat, membuatnya nyata bagi semua yang mendengarkan.Alkitab mencatat bahwa karena kesaksianku itu, banyak orang Samaria di kota itu menjadi percaya kepada Yesus.
Jadi, tatkala aku berjuang menemukan kata-kata yang benar, aku mengingat perempuan Samaria tadi dan mengingatkan diriku bahwa aku cukup dengan menjelaskan betapa Allah sangat mengenalku dan tetap mencintai dan menerima aku apa adanya. Mengapa aku membuat pekabaran Injil lebbih rumit dari hal ini? Bukan argumentasi yang memenangkan hati, melainkan cara kita menyampaikan sukacita pengenalan akan Allah – dan sukacita karena Allah mengetahui segala sesuatu tentang kita dan tetap mengasihi kita.
Doa:
Allah Sumber segala pengetahuan, penuhilah kami dengan sukacita sehingga dapat menyaksikan Engkau secara mudah dan wajar. Amin.
Pokok pikiran:
Bersaksi artinya mengatakan yang kita tahu tentang Allah.
Doa syafaat:
Kerelaan membagi imanku.
Dikutip dari:
Saat Teduh BPK Gunung Mulia – Jakarta – Indonesia
© Copyright 2009 by The Upper Room
Sabtu, 14 November 2009
Emma J. Peterson (Buckinghamshire, Inggris)





























